Apa Yang Akhirnya Mengakhiri Karma-Krishna tentang Mencapai Tuhan

 

Apa Yang Akhirnya Mengakhiri Karma-Krishna tentang Mencapai Tuhan

Apa yang Akhirnya Mengakhiri Karma?

Pernahkah Anda merasa lelah dengan siklus kehidupan yang terus berputar? Lahir, tumbuh, bekerja, meraih impian, lalu menghadapi kematian, hanya untuk terlahir kembali dan mengulang semuanya dari awal. Inilah yang disebut dengan roda samsara, roda kelahiran dan kematian yang tak berujung.

Dalam video pencerahan di kanal HOLY BHAGAVAD GITA, Swami Mukundananda mengupas tuntas jawaban atas pertanyaan fundamental ini berdasarkan Bab 8 Bhagavad Gita, "Akar Brahma Yog". Beliau menjelaskan bahwa tujuan tertinggi manusia adalah mencapai "perahu ilahi" yang akan membebaskannya dari samudra maya ini. Lalu, apa kuncinya? Dan bagaimana cara meraihnya di tengah hiruk-pikuk kehidupan?

Janji Pasti Krishna: Ingat Aku di Akhir, Kau Datang pada-Ku

Inti dari ajaran Krishna dalam bab ini adalah sebuah janji yang sangat kuat dan tanpa keraguan. Krishna berkata kepada Arjuna, dan kepada kita semua:

"Mereka yang meninggalkan tubuh sambil mengingat-Ku pada saat kematian, akan mencapai-Ku. Tidak ada keraguan tentang ini."

Janji ini sederhana namun mendalam. Ini adalah jalan keluar dari karma dan kelahiran kembali. Namun, tantangannya bukanlah pada janji-Nya, melainkan pada kemampuan kita untuk mengingat-Nya di saat-saat terakhir yang kritis.



Siklus Karma dan Tujuan Sejati

  • Hidup manusia berjalan dalam lingkaran karma: lahir, hidup, mati, lalu lahir kembali.
  • Tujuan sejati bukan sekadar kesenangan dunia, melainkan “divine boat”—jalan menuju Tuhan.
  • Sri Krishna menegaskan: “Mereka yang meninggalkan tubuh sambil mengingat-Ku akan datang kepada-Ku, tanpa keraguan.”

Cara Keluar dari Siklus

Sri Krishna memberikan solusi sederhana namun mendalam: mengikat pikiran kepada-Nya.

  • Anukul Bhav (positif): Mengingat Tuhan dengan cinta, bhakti, dan rasa syukur.
  • Pratikul Bhav (negatif): Bahkan dengan menentang Tuhan, seperti yang dilakukan Rahwana, seseorang tetap bisa mencapai pembebasan bila akhirnya dibinasakan oleh Tuhan.

Namun, bagi manusia biasa, jalan yang paling realistis adalah bhakti positif—menyandarkan hati pada Tuhan dengan penuh kasih.


Kisah Rahwana dan Mandodari

Swami Mukundananda mengisahkan dialog antara Rahwana dan istrinya, Mandodari:

  • Mandodari mengingatkan Rahwana tentang keagungan Rama, yang namanya saja mampu membuat batu mengapung.
  • Rahwana mengakui kekuatan Rama, namun memilih jalan oposisi sebagai “jalan pintas” menuju pembebasan.
  • Kisah ini menunjukkan bahwa bahkan musuh Tuhan pun akhirnya bisa mencapai-Nya, tetapi jalan bhakti jauh lebih mulia dan aman.

Belajar dari Musuh Tuhan: Kisah Rahwana dan Jalan Oposisi

Swami Mukundananda memberikan ilustrasi unik dari kisah Ramayana, yaitu tentang Rahwana. Rahwana, raja rakshasa, sadar betul akan kuasa Rama. Ia tahu bahwa Rama adalah Tuhan itu sendiri. Namun, karena memiliki tubuh tamasik (penuh kegelapan dan sifat negatif), ia merasa tidak mampu melakukan bhakti (pengabdian) dengan penuh cinta.

Lalu, apa yang ia lakukan? Ia memilih jalan pintas: menjadi musuh Tuhan. Rahwana berpikir, "Dengan melawan Rama, pada akhirnya ia akan membunuhku. Dan jika Tuhan membunuh seorang iblis, ia akan membebaskannya juga." Ia bahkan mendemonstrasikan kekuatan nama "Rama" di hadapan Mandodari, istrinya, dengan membuat batu melayang atas nama Rama, sementara batu bertuliskan namanya sendiri tidak bisa.

Pelajaran dari Rahwana adalah bahwa oposisi kepada Tuhan pun bisa membawa pembebasan. Namun, seperti yang dicatat Swami Mukundananda dengan jenaka, "Kita tidak memiliki kekuatan seperti Rahwana." Oposisi kecil kita mungkin tidak akan diperhitungkan. Jalan ini bukan untuk kita.

Jalan Pasti untuk Kita: Kasih Sayang dan Latihan Seumur Hidup

Jika jalan oposisi adalah pengecualian bagi makhluk berkuasa seperti Rahwana, maka jalan yang diajarkan Krishna untuk kita adalah jalan kasih sayang yang positif (anukul bhav). Kita diminta untuk melekatkan pikiran kita pada Tuhan, pada kaki teratai-Nya.

Namun, di sinilah letak tantangan terbesar. Mengingat Tuhan di saat kematian bukanlah pekerjaan mudah. Swami Mukundananda melukiskannya dengan gamblang:

  • Kematian itu menyakitkan. Kitab suci menggambarkan rasa sakit saat jiwa tercabut dari raga bagaikan disengat ribuan kalajengking secara bersamaan. Dalam kepanikan dan penderitaan ekstrem itu, pikiran secara otomatis akan tertuju pada apa yang paling akrab baginya.

  • Ini masalah kebiasaan. Beliau memberikan analogi yang kuat: "Anda bisa mengajari burung beo untuk mengucapkan 'Radhe Govind'... tetapi jika Anda menekan leher burung itu, ia tidak akan mengucapkan 'Radhe Govind', ia akan mengerang kesakitan."

Demikian pula manusia. Jika seumur hidup kita sibuk dengan "Coca-Cola, Coca-Cola" atau urusan duniawi lainnya, di saat-saat genting, pikiran tidak akan tiba-tiba berubah arah ke Tuhan. Kualitas pikiran di saat kematian ditentukan oleh kualitas pikiran selama kita hidup.

Hikmah dari Kematian Seorang Ksatria Kera: Kisah Bali

Untuk menekankan pentingnya momen kematian, Swami Mukundananda menceritakan kisah Bali, ksatria kera dari Ramayana. Ketika Rama membunuh Bali dari balik pohon, sekarat, Bali protes karena dianggap tidak menjunjung dharma.

Namun, ketika Rama menawarkan untuk menghidupkannya kembali, Bali menolak! Ia berkata, "Tuan, saya telah membuat banyak kesalahan dalam hidup ini, tapi kesalahan ini tidak akan saya buat. Para yogi dan resi besar berjuang seumur hidup agar bisa mengingat Rama di saat akhir, namun sering gagal. Dan sekarang, di depan mataku, Rama sendiri hadir. Mengapa aku harus melewatkan kesempatan yang datang setelah sekian banyak kehidupan ini?"

Bali memilih untuk fokus pada Rama dan meninggalkan tubuhnya dengan kesadaran penuh kepada Tuhan. Ia memahami bahwa momen kematian adalah momen paling berharga untuk menentukan tujuan akhir jiwa.

Contoh Bali dan Ram

Kisah Bali, yang ditembak oleh panah Rama, menjadi teladan:

  • Bali menyadari bahwa kesempatan mengingat Tuhan di saat terakhir adalah anugerah besar.
  • Ia menolak hidup kembali, memilih wafat dengan Rama di hadapannya.
  • Inilah puncak keberhasilan spiritual: mengingat Tuhan di saat kematian.

Tantangan Mengingat Tuhan di Saat Kematian

  • Kematian adalah pengalaman penuh rasa sakit, digambarkan seperti seribu kalajengking menyengat sekaligus.
  • Pikiran manusia akan otomatis kembali pada kebiasaan yang dilatih sepanjang hidup.
  • Jika sepanjang hidup hanya memikirkan dunia, maka di saat kematian sulit mengingat Tuhan.
  • Karena itu, latihan seumur hidup diperlukan agar pikiran terbiasa tertuju pada Tuhan.

Kesimpulan: Latihan Hari Ini untuk Akhir yang Pasti

Jadi, apa yang akhirnya mengakhiri karma dan membawa kita pada Tuhan? Jawaban Krishna bukan hanya tentang mengingat-Nya di akhir, tetapi tentang menjadikan pengingatan itu sebagai sebuah kebiasaan seumur hidup.

Kita tidak bisa berharap untuk mengingat Tuhan di saat ajal jika kita tidak meluangkan waktu untuk mengingat-Nya di saat sehat dan sibuk. Jika kita ingin pikiran kita tertuju pada-Nya di akhir, kita harus mulai melatihnya dari sekarang. Seperti kata Swami Mukundananda, "Untaian pikiran di saat kematian akan pergi sesuai dengan kebiasaan seumur hidup."

Mulailah hari ini. Sematkan nama dan sifat-sifat Tuhan dalam pikiran Anda. Jadikan itu teman setia Anda dalam suka dan duka. Dengan latihan yang tekun dan kasih sayang yang tulus, janji Krishna akan menjadi kenyataan: pada akhirnya, Anda pasti akan mencapai-Nya.

Sri Krishna menegaskan bahwa jalan keluar dari karma adalah mengingat Tuhan di saat kematian. Namun, hal ini hanya mungkin bila sepanjang hidup kita melatih pikiran untuk selalu tertuju pada-Nya.

  • Praktik harian bhakti adalah kunci.
  • Mengikat pikiran pada Tuhan sejak sekarang akan memastikan kita mencapai-Nya kelak.

Bagaimana cara Anda melatih pikiran untuk senantiasa mengingat-Nya di tengah kesibukan sehari-hari? Bagikan pemikiran Anda di kolom komentar di bawah!

I WAYAN AGUS NOVA SAPUTRA
I WAYAN AGUS NOVA SAPUTRA Saya adalah penulis blog alumni Mahasiswa Universitas Tadulako Palu Fakultas Hukum