Dalih Toleransi: Mengurai Kesalahan Pemahaman Umat Hindu dalam Menerapkan Konsep "Toleransi" Sejati

Dalih Toleransi: Mengurai Kesalahan Pemahaman Umat Hindu dalam Menerapkan Konsep "Toleransi" Sejati

Banyak umat Hindu terjebak dalam pemahaman toleransi yang keliru, yang justru melemahkan posisi dan pemahaman agamanya sendiri. Artikel ini mengupas kesalahan tersebut dengan merujuk pada fakta bahwa Hindu adalah agama terbesar di dunia, serta bagaimana seharusnya Dharma diaplikasikan.

Pendahuluan: Toleransi yang Menjadi Jebakan

Dalam percakapan tentang kerukunan beragama di Indonesia, umat Hindu sering kali dipuji sebagai "contoh toleransi". Pujian ini, meski terdapat baik, ternyata menyimpan jebakan berbahaya. Tanpa disadari, banyak dari kita, umat Hindu, terjebak dalam narasi "toleransi" yang justru mengerdilkan keyakinan kita sendiri. Kita menyamaratakan toleransi sebagai sikap pasif, menerima segala bentuk interpretasi, bahkan yang menyimpang dari ajaran inti Dharma, hanya untuk dianggap "ramah" dan "tidak menimbulkan konflik".

Padahal, jika kita merujuk pada data dan filosofi mendalam agama kita, Hindu adalah agama terbesar di dunia dalam hal cakupan filosofi, jumlah dewa yang dipuja, keragaman jalan spiritual (yoga, bhakti, jnana, karma), dan usia peradabannya. Ini adalah fakta yang sering dilupakan, bahkan oleh umat Hindu sendiri, ketika kita terlena dalam dalih toleransi yang semu.


Mengapa Disebut "Agama Terbesar di Dunia"?

Dalam buku-buku seperti "Hindu: Agama Terbesar di Dunia" (kerap merujuk pada karya-karya seperti "The Complete Idiot's Guide to Hinduism" atau esai-esai sarjana seperti Dr. David Frawley), "terbesar" tidak semata diukur dari jumlah pemeluk, tetapi dari:

Kedalaman dan Keluasan Filosofi: Veda, Upanishad, Bhagavad Gita, dan ratusan teks lainnya mencakup pembahasan dari kosmologi, etika, politik, hingga ilmu kesehatan.

Konsep Ketuhanan yang Inklusif namun Tidak Relativistis: Hindu mengakui kebenaran yang satu (Brahman) yang termanifestasi dalam banyak bentuk (deva-devi). Ini bukan berarti "semua agama sama", tetapi bahwa Tuhan memiliki banyak jalan untuk didekati. Perbedaan krusialnya ada pada penekanan dan metode, bukan pada relativisme kebenaran.

Kemampuan Beradaptasi tanpa Kehilangan Inti (Sanatana Dharma): Hindu telah berdialog dengan peradaban selama ribuan tahun tanpa kehilangan prinsip utamanya: Dharma (kebenaran universal), Artha (kesejahteraan), Kama (hasrat yang wajar), dan Moksha (pembebasan spiritual).


Tiga Kesalahan Pemahaman Umat Hindu Tentang Toleransi

Di sinilah kesalahan pemahaman sering terjadi. Umat Hindu terjerumus ke dalam tiga jebakan:

1. Menyamakan "Sarva Dharma Sama Bhava" dengan "Semua Agama Sama Persis".

Fakta: Frasa populer ini berarti "semua agama patut dihormati" atau "semua jalan spiritual patut dihargai". Bukan berarti semua ajaran, kitab, dan tujuannya identik.

Kesalahan: Untuk menjaga "toleransi", umat Hindu sering mengiyakan pernyataan "kan pada akhirnya semua menuju Tuhan yang sama, jadi sama saja". Ini adalah bentuk pelemahan intelektual. Hindu memiliki peta jalan spiritual yang sangat spesifik (seperti konsep karma, reinkarnasi, dan moksha) yang tidak persis sama dengan agama lain. Mengakui perbedaan bukanlah intoleran, justru itu adalah kejujuran intelektual.

2. Toleransi yang Bersifat "Eksternal Oriented" dan Menelantarkan Internal.

Fakta: Kekuatan Hindu ada pada penguatan internal: swadhyaya (belajar diri), yoga, dan pelaksanaan ritual dengan pemahaman.

Kesalahan: Energi banyak habis untuk terlihat "ramah" di mata agama lain, sementara pemahaman terhadap Weda, penerapan nilai-nilai Dharma dalam bisnis dan politik, serta pembinaan generasi muda justru terkikis. Toleransi sejati harus dimulai dari keyakinan yang kuat dan pemahaman yang mendalam tentang diri sendiri, bukan dari keraguan dan keinginan untuk sekadar disukai.

3. Mengorbankan Prinsip Dharma demi "Kerukunan" Semu.

Fakta: Dharma adalah hukum kebenaran universal yang tidak berubah. Ia memiliki aspek seperti Satya (kejujuran), Ahimsa (tanpa kekerasan), dan Asteya (tidak mencuri).

Kesalahan: Dalam nama toleransi, kita kadang diam saat praktik-praktik yang bertentangan dengan Dharma (seperti korupsi, eksploitasi alam berlebihan, atau ketidakadilan) dilakukan oleh pihak lain, karena takut dituduh provokatif. Ini adalah pengkhianatan terhadap Dharma. Toleransi bukan berarti membiarkan kebatilan. Berkata benar (Satya) atas dasar ilmu dan kasih adalah bagian dari Dharma, dan itu adalah bentuk toleransi tertinggi—karena kita menganggap pihak lain cukup dewasa untuk diajak berdialog kebenaran.


Lalu, Seperti Apa "Toleransi" Sejati Menurut Sanatana Dharma?

Toleransi sejati dalam Hindu adalah toleransi aktif dan berpengetahuan:

  1. Berdiri di Atas Pondasi Kokoh: Sebelum menghormati jalan lain, pahami dulu jalanmu sendiri dengan mendalam. Baca Bhagavad Gita, pelajari Itihasa (Kisah Ramayana dan Mahabharata). Keyakinan yang kuat tidak menghasilkan sikap fanatik, justru menghasilkan ketenangan untuk tidak mudah tersinggung.
  2. Mengakui Perbedaan tanpa Harus Menyamaratakan: Kita bisa berkata, "Saya menghormati jalan spiritual Anda. Dalam Hindu, jalan saya menuju Yang Ilahi adalah melalui [sebutkan salah satu jalan]. Saya melihat kita memiliki tujuan mulia yang serupa, meski dengan metode yang berbeda. Mari kita saling belajar."
  3. Memperjuangkan Dharma, Bukan Hanya Ritual: Toleransi sejati adalah memperjuangkan nilai-nilai universal Dharma seperti kejujuran, pelestarian alam, dan kemanusiaan, di mana pun dan oleh siapa pun. Ini adalah bahasa universal yang melampaui identitas agama sempit.
  4. Menggunakan Fakta Sejarah dan Filosofi: Jangan ragu untuk menyebut dengan bangga bahwa Hindu adalah agama tertua dengan khazanah pengetahuan yang luar biasa. Ini bukan untuk menyombongkan diri, tetapi untuk memberikan konteks bahwa kita berasal dari tradisi yang kaya dan tangguh, sehingga kita bisa memberi kontribusi signifikan dalam dialog antaragama.


Kesimpulan: Dari Toleransi Pasif Menuju Dharma yang Aktif

Dalih toleransi yang keliru telah membuat banyak umat Hindu menjadi "tamu yang baik" di rumahnya sendiri. Saatnya kita beranjak dari toleransi pasif (yang hanya menerima) menuju pengamalan Sanatana Dharma yang aktif.

Hiduplah dengan penuh keyakinan atas jalan spiritual yang kita miliki. Pahami, amalkan, lalu dengan percaya diri dan penuh kerendahan hati, dialogkan dengan dunia. Seorang Hindu yang teguh pada Dharmanya, yang hidup dengan Satya dan Ahimsa, adalah kontributor terbesar bagi perdamaian dunia—lebih dari sekadar "toleran".


Call to Action:

Mulai hari ini, ganti satu kebiasaan: alih-alih hanya mengatakan "semua agama sama", coba jelaskan satu konsep Hindu yang Anda pahami (misalnya: "Dalam kepercayaan saya, karma mengajarkan tentang sebab-akibat universal..."). Itu adalah toleransi sejati: berbagi kebijaksanaan, bukan mengubur identitas.


Tanggapan Bijak Atas Viral "Pria Salat di Pura Tirta Empul": Antara Fatwa, Aturan, dan Esensi Dharma

Subjudul: Kejadian ini bukan sekadar soal toleransi, tetapi ujian pemahaman kita tentang "Dharma" tempat suci dan hakikat spiritualitas yang sesungguhnya.

Fakta Singkat Peristiwa

Beberapa waktu lalu, viral video seorang pria melaksanakan salat di area Jaba Tengah (area luar utama) Pura Tirta Empul, Tampaksiring, Bali. Pihak pengelola pura dan Majelis Desa Pakraman setempat telah merespons dengan menyatakan bahwa tindakan tersebut melanggar aturan (awig-awig) yang melarang kegiatan ibadah agama selain Hindu di area inti pura. Pelaku telah diminta memahami dan menaati aturan tersebut.

Analisis dari Perspektif Hindu Dharma: Bukan tentang "Menolak", tapi tentang "Memuliakan"

Insiden ini, jika dilihat secara dangkal, akan langsung dijebak dalam narasi "intoleransi". Namun, pemahaman yang lebih dalam dari sudut pandang Hindu Dharma mengungkap lapisan makna yang lebih kompleks:

  1. Konsep "Kesucian" (Suddham) dan "Getaran" Spiritual:

    • Pura, terutama pura khsusus seperti Tirta Empul yang memiliki mata air suci, bukan sekadar bangunan publik. Ia adalah tempat yang telah dipralina (disucikan secara ritual) dan dipersembahkan untuk vibrasi spiritual tertentu, yaitu untuk memuja manifestasi Tuhan dalam konsep Hindu. Aktivitas di dalamnya, termasuk cara berpakaian dan berperilaku, diatur untuk menjaga kesucian (suddham) dan keseimbangan (harmoni) getaran spiritual tersebut.

    • Melakukan ritual agama lain di dalamnya dianggap dapat mengganggu tata-getar (vibrasi) spiritual yang telah dijaga. Ini adalah persoalan kesadaran spiritual, bukan sekadar aturan administratif.

  2. Aturan (Awig-Awig) sebagai Penjaga Harmoni:

    • Awig-awig adalah hukum adat Bali yang hidup dan dipatuhi bersama. Aturan larangan beribadah selain Hindu di area pura sudah lama ada dan diketahui secara luas, termasuk oleh wisatawan. Aturan ini berlaku untuk semua orang tanpa kecuali, baik turis domestik maupun mancanegara.

    • Melanggar awig-awig bukan hanya pelanggaran administratif, tetapi pelanggaran terhadap kesepakatan sosial-spiritual masyarakat adat Bali yang telah menjaga pura selama berabad-abad. Penegakan aturan ini adalah bentuk tanggung jawab (dharma) pengelola untuk menjaga kesucian tempat.

  3. Toleransi Sejati Ada Batasnya: Menghormati "Rumah" Orang Lain:

    • Analoginya sederhana: Kita bisa sangat toleran dan ramah kepada tetangga, tetapi kita akan merasa keberatan jika tetangga masuk ke ruang doa pribadi di rumah kita dan mulai melakukan ritual kepercayaannya sendiri di sana. Itu adalah batas privasi dan kesucian.

    • Pura adalah "rumah" bagi umat Hindu untuk memuja. Toleransi sejati justru lahir ketika semua pihak saling menghormati batas-batas kenyamanan dan kesucian ini. Umat Hindu tidak meminta untuk salat di dalam masjid atau misa di dalam gereja. Permintaan untuk aturan yang sama adalah wajar dan adil.

  4. Kesalahan Memahami "Universalisme" Spiritual:

    • Seperti dibahas dalam artikel utama, kesalahan paham "Sarva Dharma Sama Bhava" sering dikutip. Filsafat Hindu memang melihat kebenaran universal, tetapi setiap jalan spiritual memiliki disiplin (sadhana) dan tempat (sthala) yang khusus. Menyamaratakan semua tempat ibadah justru mengaburkan keunikan dan kedalaman setiap jalan.

    • Spiritualitas bukanlah "satu ukuran untuk semua". Ia menghargai kekhasan konteks. Air suci di Tirta Empul memiliki makna dan sejarah tertentu dalam kosmologi Hindu Bali yang tidak bisa digantikan atau disamakan dengan makna air di tradisi lain.

Mengapa Fatwa MUI Bali 2016 Relevan?

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bali pada tahun 2016 telah mengeluarkan fatwa yang melarang umat Islam salat di pura atau tempat suci Hindu lainnya. Fatwa ini justru menunjukkan pemahaman dan penghormatan yang matang dari tokoh agama Islam di Bali. Mereka memahami bahwa:

  • Hal itu dapat menimbulkan kerancuan akidah (syubhat) bagi umat Islam.

  • Hal itu tidak menghormati kekhususan tempat ibadah umat Hindu.

  • Kerukunan dibangun dengan saling menjaga, bukan dengan mencampuradukkan.

Fatwa ini adalah contoh tanggung jawab sosial dan spiritual yang patut diapresiasi, bukan disalahpahami.

Kesimpulan dan Pelajaran

Peristiwa ini memberikan pelajaran berharga bagi semua pihak:

  1. Bagi Pengunjung Non-Hindu: Pelajari dan hormati aturan adat (awig-awig) setempat. Ketidaktaatan, meski dengan niat "baik" sekalipun, adalah bentuk ketidakhormatan. Gunakan fasilitas musala atau ruang ibadah umum yang telah disediakan.

  2. Bagi Umat Hindu: Sampaikan aturan ini dengan tegas, jelas, namun santun. Penjelasan harus fokus pada konsep kesucian (suddham) dan penjagaan harmoni, bukan pada sentiment anti-agama lain. Ini adalah momen edukasi.

  3. Bagi Publik Luas: Naikkan diskusi melampaui narasi "toleransi vs intoleransi". Pahami esensi filosofi di balik aturan adat dan religius. Kerukunan sejati dibangun di atas saling pengertian mendalam, bukan sekadar gestur simbolis yang bisa menodai kesucian masing-masing pihak.

Intinya: Menjaga kesucian Pura Tirta Empul dengan menaati awig-awig adalah Dharma-nya pengelola dan masyarakat Hindu Bali. Menghormati aturan itu adalah Dharma-nya setiap pengunjung. Dharma yang dijalankan dengan benar oleh semua pihak akan melahirkan kerukunan sejati yang berlandaskan kejernihan pikiran dan saling harga-menghargai, bukan kerukunan semu yang rapuh karena didasari oleh ketidaktahuan dan pelanggaran.

FAQ Singkat:

  • Q: Apakah ini berarti umat Hindu tidak toleran?

    • A: Tidak. Justru aturan yang jelas adalah bentuk penghormatan tertinggi. Umat Hindu sangat toleran di ruang publik, tetapi memiliki hak untuk menjaga kesakralan ruang privat-spiritualnya.

  • Q: Di mana seharusnya pelaku salat?

    • A: Di musala, hotel, atau tempat ibadah umum lainnya yang disediakan, bukan di area yang secara spiritual telah dikhususkan untuk ritual Hindu.

  • Q: Apa solusi ke depan?

    • A: Sosialisasi aturan yang lebih masif (dalam banyak bahasa) di titik-titik strategis, kerja sama pemandu wisata, dan penegakan aturan yang konsisten dan santun.

I WAYAN AGUS NOVA SAPUTRA
I WAYAN AGUS NOVA SAPUTRA Saya adalah penulis blog alumni Mahasiswa Universitas Tadulako Palu Fakultas Hukum